Jadilah yang Bermanfaat untuk Semua Orang

Umat sudah bosan dan jenuh untuk dipesan, marilah kita tumbuhkan kesan di setiap amal kita kepada mereka

Kamis, 10 November 2011

Khutbah "Hikmah Ibadah Haji"

HIKMAH IBADAH HAJI


"dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh".
(QS. Al Hajj ayat 27)

Hadirin jamaah sidang Jum’ah yang dirahmati Allah SWT
Mengawali khutbah di Mimbar yang mulia ini, khatib mengajak kepada kita sekalian untuk selalu meningkatkan ketaqwaan kita kepada Allah. Karena dengan taqwa itulah kita semua akan mendapatkan kebahagiaan di dunia dan di akhirat.

Shalawat dan salam juga senantiasa selalu tercurahkan keharibaan ruh junjungan alam, Baginda Nabi, Rasulullah, Muhammad SAW. Semoga dengan shalawat yang selalu kita kumandangkan akan menjadi penolong bagi kita kelak di Yaumil Akhir. Tatkala tidak ada lagi pertolongan selain pertolongan Allah dan syafaat Rasulullah SAW. Amin Ya Rabbal ‘alamin!

Hadirin yang berbahagia
Jumat kita pada hari ini adalah Jumat terkahir di Bulan Dzulqa’dah. Ini berarti bahwa Insya Allah Jum’at kita yang akan datang kita telah memasuki bulan Allah yang penuh keistimewaan, yaitu bulan Dzulhijjah. Di mana pada bulan tersebut terdapat beberapa peristiwa spektakuler dan selalu dikenang oleh seluruh masyarakat Islam, yaitu puncak dari pelaksanaan ibadah haji dan Hari Raya Qurban.

Sudah beberapa hari para sahabat, keluarga, dan handai taulan kita sudah berangkat menuju tanah suci memenuhi panggilan Illahi. Kumandang ungkapan shalawat mengiringi perjalanan mereka. Dan yang sangat memilukan lagi adalah ketika peluk cium terlepas dari mereka ketika keluarga dan sahabat ditinggalkannya. Yang lebih dahsyat lagi, ketika ribuan orang miskin menangis melihat para jamaah haji sebagai pertanda betapa sulit bagi mereka menyamai para undangan Allah itu. Mungkin, banyak di antara kita yang berangkat haji namun orang-orang miskin, anak yatim, dan yang membutuhkan kita abaikan. Na’udzubillah!
Hadirin yang dirahmati Allah
Pada khutbah kali ini, khatib akan menyampaikan beberapa hikmah dan esensi dari pelaksanaan ibadah haji yang akan dilaksanakan oleh saudara-saudara kita yang dipanggil terlebih dahulu oleh Allah SWT, dan kita pun juga wajib untuk berharap dipanggil menuju tanah suci melaksanakan rukun Islam yang terakhir tersebut pada tahun-tahun yang akan datang. Amin!

Haji merupakan lambang dari puncak “ketangguhan pribadi” dan puncak “ketangguhan sosial”. Haji adalah sublimasi dari keseluruhan rukun iman dan perwujudan akhir dari rukun Islam. Secara prinsip, haji merupakan langkah yang berpusat kepada Allah Yang Maha Tunggal, dimana segala tujuan tidak lagi berprinsip kepada dunia dan lainnya.

Secara sosial, haji merupakan simbol dari perpaduan tertinggi manusia. Pertemuan dengan skala tertinggi dan terdahsyat karena seluruh umat Islam sedunia mempunyai visi dan misi yang sama, yaitu berkeinginan membangun jati diri, memperbaiki diri, dan mendapatkan haji mabrur di sisi Allah SWT.

Setiap langkah dalam pelaksanaan ibdah haji merupakan perwujudan dari suara hati yang suci. Gerak, tindakan, nafas, serta detak jantung yang berdegup hanya berpusat pada Allah. Dan pada akhirnya, ibadah haji merupakan “potret” nyata dari impian manusia. Menjadi pribadi-pribadi yang unggul dalam kebaikan dunia dan akhirat.

Hadirin Jamaah Jum’ah yang dirahmati Allah
Sama halnya dengan ibdah-ibadah yang lain. Pelaksanaan ibdah haji juga diawali dengan Niat. Niat memiliki arti luas dan dalam. Tidak semata dilihat dari ritual saja, melainkan untaian tujuan dan motivasi sebelum ibadah haji dilaksanakan. Niat ibadah haji adalah hanya menuju pada orbit Allah. Sedangkan niat pendukungnya adalah untuk membangun dan mengembalikan fitrah manusia.

Terlalu banyak orang yang melakukan ibadah haji hanya untuk kepentingan setelah kematian saja. Padahal justru manfaat dari ibadah haji sangatlah esensial dalam kehidupan dunia. Itu disebabkan karena niat awal dari pelaksanaan ibdah hajinya hanya untuk mencapai pahala, bukan untuk mencapai keridhaan Allah SWT.

Pegenaan pakaian ihram dalam haji memiliki arti yang luas dan dalam. Ihram merepresentasikan sisi mental pribadi serta sisi yang lain, yaitu hubungan sosial. Dari sisi mental, ihram merupakan simbol dari kesucian manusia. Ihram melambangkan kemerdekaan sehingga jamaah haji patut mendapat predikat sebagai orang yang kembali kepada kesuciannya. Inilah yang dinamakan kemerdekaan sejati, melangkah dengan hati yang jernih, komitment yang kuat kepada Allah, dan melakukan perjuangan sebagai khalifah Allah di muka bumi.

Setelah tiba di Padang Arafah mengenakan pakaian ihram, jamaah haji melakukan “Wukuf”. Wukuf berarti berhenti. Berhenti secara fisik, namun bergerak secara pikiran. Yaitu berpikir untuk kembali kepada kesucian. Karena di tempat inilah para jamaah haji mengumandangkan kalimat-kalimat keagungan, istighfar, dan penghambaan kepada Sang Pencipta. Hal ini dijelaskan dalam Al Quran Surah Al Baqarah ayat 199:
"kemudian bertolaklah kamu dari tempat bertolaknya orang-orang banyak ('Arafah) dan mohonlah ampun kepada Allah; Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Inilah bukti ilmiah tentang manfaat wukuf, mengingat kembali jati diri spiritual manusia sebagai hamba Allah dan mengevaluasi makna kehidupan sebenarnya.

Hadirin yang dirahmati Allah
Selanjutnya, kegiatan yang berpijak pada prinsip mengelilingi ka’bah atau Thawaf akan membangun suatu visi yang hanya berpusat kepada Allah. Dilambangkan dengan Ka’bah. Ka’bah sebagai simbol yang akan memudahkan manusia dalam melaksanakan prinsip ketauhidan Ibrahim a.s. Berputar 7 kali di samping bermakna tujuh lapis langit, juga melambangkan jumlah hari dalam satu minggu. Thawaf juga menjadi pusat prinsip yang membimbing diri tetap berpegang teguh di jalan Allah.

Kemudian, visualisasi atau gambaran yang dilandasi oleh Sa’i. Akan membangun wawasan yang berlandaskan sikap mental serta fisik yang tangguh. Sikap mental yang pantang menyerah. Inilah gambaran dari perjuangan Siti Hajar yang berjalan bolak-balik berkali-kali di tengah gurun yang tandus mencari seteguk air bagi anaknya. Sai mengajarkan manusia melepaskan sikap putus asa, keluh kesah, dan menjadikan manusia menjadi pemenang di segala bidang.
"Sesungguhnya Shafaa dan Marwa adalah sebahagian dari syi'ar Allah. Maka Barangsiapa yang beribadah haji ke Baitullah atau ber-'umrah, Maka tidak ada dosa baginya mengerjakan sa'i antara keduanya. dan Barangsiapa yang mengerjakan suatu kebajikan dengan kerelaan hati, Maka Sesungguhnya Allah Maha Mensyukuri kebaikan lagi Maha mengetahui." (QS. Al Baqarah: 158)

Selanjutnya, Melontar Jumrah di Mina adalah simbol dari perlawanan aktif terhadap musuh-musuh kita yaitu Syetan la’natullah ‘alaih. Musuh itu bergerak dengan sangat efektif dan efisien. Karena ia tahu di mana letak kelemahan kita. Melontar jumrah tanpa mengetahui bagaimana strategi menyerang, akan berakibat pada lontaran yang kurang mengenai sasaran.
"syaitan itu memberikan janji-janji kepada mereka dan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka, Padahal syaitan itu tidak menjanjikan kepada mereka selain dari tipuan belaka." (QS. An Nisa : 120)

Demikian beberapa kegiatan pokok yang akan dijalani para jamaah haji selama di tanah suci. Dan semoga kita dapat mengambil ibrah dari kegiatan tersebut selama menunggu panggilan nyata untuk mengaplikasikan simbol-simbol dari kegiatan tersebut.

Hadirin yang dirahmati Allah
Alam semesta merupakan teladan yang terbaik untuk mengajarkan kita akan prinsip kehidupan. Ketika kita melihat bunga dan lebah, bunga memberikan madu dan lebah menyebarkan putik sari sebagai bibit. Begitu pula kehidupan lebah itu sendiri, ada yang bertugas menjaga sarang, ada yang bertugas mencari madu, dan ada yang bertugas hanya untuk bertelur. Pohon kelapa hidupa dengan pantai, pohon kelapa menjaga dan melindungi garis pantai dari erosi dan abrasi, dan pantai membantu kelapa untuk menyebarkan benih melalui arus dan gelombang.

Begitu juga dalam kehidupan sosial kita, diciptakan laki-laki dan perempuan yang saling membutuhkan, lalu mereka berkeluarga dan mengantar anak tumbuh dewasa. Ini adalah prinsip kehidupan semuanya saling membutuhkan. Begitulah yang digambarkan dalam pelaksanaan ibdah haji. Semua dilakukan dengan bersama-sama. Haji melambangkan kehidupan manusia yang saling berbagi, berbuat baik kepada semua orang, dan berprasangka positip kepada sesama. Untuk itu marilah kita terapkan prinsip persaudaraan, berbagi dan mengasihi kepada sesama tanpa permusuhan karena semua itu akan membangkitkan kemuliaan pada diri kita.
"Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal." (QS. Al Hujurat ayat 13)

Demikian khutbah yang dapat khatib sampaikan, mudah-mudahan bermanfaat bagi kita semua dan semoga saudara-saudara kita baik yang sudah dan akan melaksanakan ibadah hajinya menjadi haji yang mabrur, dan kita semua yang hadir di tempat ini juga mudah-mudahan dapat memenuhi panggilan mulia tersebut di tahun-tahun berikutnya. Amin ya Rabbal ‘alamin.

Ja’alanallau waiyyakum minal fa idzinal aminin. Wa adkholana waiyyakum fii zumrotul muttaqiin. Waqul rabbanagfirlana warhamnawa anta khairor roohimiiin.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar